Sumber: Bisnis Indonesia

JAKARTA-Produk mainan anak yang beredar sebagian besar belum mengantongi sertifikasi wajib mainan anak dengan berakhirnya masa pengawasan pemberlakuan 30 Oktober 2014.

Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmeti) Danang Sasongko mengatakan hingga saat ini baru 10%-20% produsen mainan anak edukatif dan tradisional yang sudah mengantongi SNI, sementara 50% sedang mendaftarkan produknya ke lembaga Sertifikasi Produk (LSPro).

“Pada 10 hari pertama, pemberlakuan wajib SNI sebagian besar produk di pasar tradisional belum berlabel SNI sedangkan di pasar modern sudah sekitar 60% produk yang berlabel,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (11/11).

Beberapa produsen yang tidak mampu mendaftarkan produk untuk mendapatkan SNI beralih menjadi distributor produk mainan anak yang sudah mengantongi sertifikasi tersebut. Berbagai alasan yang melatarbelakangi alih profesi tersebut, mulai dari minimnya modal, kualitas produk dan sarana produksi yang tidak memadai hingga produsen yang menunggu efektivitas sertifikasi produk di pasaran.

“Mainan tradisional dan edukatif padahal berperan penting di lembaga pendidikan, ditakutkan pangsa pasar mereka tergeser oleh produk impor yang sudah lebih siap menghadapi SNI,” katanya.

KEBERPIHAKAN

Kepala Badan Pusat Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri (BPKIMI) Arryanto Sagala mengatakan produsen mainan anak akan semakin terdorong untuk mendaftarkan produknya jika pasar sudah menunjukkan keberpihakan pada produk berkualitas. Untuk itu pihaknya mengharapkan adanya edukasi konsumen berkenaan SNI wajib mainan anak ini.

“Kami mengurus produsennya, tidak pada konsumen. Kementerian Perdagangan yang bertanggung jawab untuk memberikan edukasi,” katanya.

Untuk produk impor, pihaknya tidak ambil pusing. Mengingat produk yang tidak berlabel SNI tidak akan diperbolehkan diperdagangkan. Menurutnya, pengawasan perlu ditingkatkan, mengingat saat ini jumlahnya tidak memadai.

“Pintu masuk tikus banyak, begitu juga pasar mainannya, memang pengawas butuh ditam bahkan,” katanya. (David Eka Issetiabudi)

Share

  • Share on Facebook
  • Share on Twitter