Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri kerajinan dan batik nasional mampu beradaptasi dan berinovasi di tengah pandemi Covid-19 sehingga mampu bertahan, bahkan mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN). Di tengah masa sulit seperti saat ini, industri batik memunculkan kreativitas dan inovasi dalam rangka meningkatkan kinerja usahanya. Tumbuhnya industri tersebut perlu untuk tetap menjaga kualitas produknya dan peningkatan volume produk. Di tengah pandemi, industri kecil menengah (IKM) batik membuat produk sesuai preferensi pasar, industri ini juga cepat melakukan diversifikasi produk. Industri kerajinan dan batik merupakan bagian dari industri kreatif, mendapat prioritas pengembangan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) karena dinilai mempunyai daya ungkit besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Doddy Rahadi-Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), dalam sambutan peluncuran Innovating Jogja tahun 2021 menyampaikan bahwa Pada tahun 2021 Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta (BBKB) didukung oleh BSKJI-Kementerian Perindustrian. kembali melaksanakan kegiatan Inkubasi Bisnis Teknologi Innovating Jogja. Kegiatan Innovating Jogja tahun ini merupakan Program Inkubasi Bisnis Teknologi  di bidang Industri Kerajinan dan Batik yang memanfaatkan teknologi Inovasi yang berasal dari masyarakat (calon tenant) atau memanfaatkan teknologi yang dimiliki oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik. Selaras dengan perubahan fokus Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) yang dahulu bernama Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kegiatan Innovating Jogja tahun 2021 berfokus pada optimalisasi pemanfaatan teknologi pada proses bisnis para tenant.

Pendaftaran innovating Jogja dibuka bagi masyarakat umum yang berusia dibawah 45 tahun, telah lulus SMA/SMK, berminat mengembangankan usaha, mampu mengunakan komputer dan memiliki ide yang inovatif di bidang kerajinan dan batik. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi formulir online pada website innovatingjogja.id  sebelum tanggal 30 April 2021.

Titik Purwati Widowati, Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik menyampaikan bahwa Program Innovating Jogja yang sudah berjalan sejak tahun 2016 telah mampu menghasilkan industri baru di bidang kerajinan dan batik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya, dan cukup mampu bersaing di kancah nasional, bahkan beberapa tenant lulusan Innovating Jogja sudah berhasil melakukan ekspor. Secara total sejak 2016 hingga sekarang, Innovating Jogja telah membimbing 113 calon dalam kegiatan bootcamp dan 20 diantaranya berhasil lolos sebagai tenant inkubator teknologi bisnis. Kami merasa berbangga dalam pelaksanaan Innovating Jogja di tahun sebelumnya telah melahirkan industri-industri kerajinan yang masih bisa survive dan berkembang sampai dengan sekarang seperti Wastraloka, Janedan, Alra, Tizania Jumputan, Djadi Batik, Ramundi Diby Leather, Smart batik, dan Arane. Beberapa diantara telah mencapai omset lebih dari 500 juta per tahun.

Start-up- Start-up diatas setelah lulus dari inkubasi innovating Jogja terus menunjukkan kinerja dan prestasinya, misalnya Wastraloka mendapatkan Femina Award 2017, Janedan memperoleh Inacraft Award 2018, Tizania Jumputan memenangkan Juara I lomba Selendang Nusantara  dalam Gelar Batik Nusantara 2019, Arane mendapatkan Anugerah Bangga Buatan Indonesia 2020 dan Top Two Blibli Big Start 2019, Deby Leather mendapatkan Kriya Nusa Award 2019 serta produk Smart Batik digunakan oleh Ditjen Pajak sebagai seragam.

 

Bagikan di Media Sosial Anda