Sektor industri merupakan salah satu sektor yang mampu mendorong percepatan ekonomi dengan multiplier effect yang dihasilkannya, sehingga upaya peningkatan daya saing industri harus terus menjadi perhatian. Industri batik di Indonesia menjadi salah satu industri turunan tekstil yang memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional karena kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan sandang dalam negeri serta sebagai sektor penghasil devisa ekspor dengan nilai yang cukup signifikan.

Sejak UNESCO memberikan pengakuan Batik Indonesia sebagai Intangible World Heritage of Humanity pada tahun 2009 lalu, segmen pasar kain dan produk batik pun semakin luas dan bermetamorfosis menjadi industri  unggulan Indonesia berupa produk fesyen, kerajinan dan home decoration.Yang patut kita apresiasi lagi, industri batik yang didominasi oleh IKM ini juga terbukti mampu bertahan di kondisi pandemic dan bahkan tercatat kinerja ekspornya meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Namun begitu, dengan kinerjanya yang terhitung baik, bukan berarti industri ini terlepas dari permasalahan. Beberapa permasalahan di indusri batik antara lain, (1) Ketersediaan perajin usia muda, (2) Produktivitas Rendah, (3) Akses bahan baku dan bahan penolong, (4) Persaingan dengan tekstil motif batik, dan (5) Permodalan. Tentunya, kami di Kementerian Perindustrian telah menyiapkan strategi untuk membantu para industri batik dalam menghadapi permasalahan tersebut sekaligus mendorong produktifitas dan daya saing industri ini.

Indonesia kaya akan karya wastra yang berpotensi menjadi industri ramah lingkungan atau industri hijau (green industry), salah satunya adalah kain batik warna alam. Batik dengan pewarna alami giat diproduksi oleh IKM seiring tren gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Pewarnaan alami menggunakan bahan-bahan berasal dari bagian-bagian tumbuhan (daun, kulit kayu, buah, akar, dan sebagainya) yang diolah untuk dapat mewarnai kain batik dengan baik. Proses pewarnaan merupakan salah satu faktor penting karena secara teknis, motif dari gambar torehan malam (lilin batik) akan terlihat setelah kain putih dicelupkan ke bahan pewarna. Padu padan warna dalam fesyen batik modern lebih mendasarkan pada dominan warna, diikuti tematik motif.

Warna-warna yang dihasilkan dari zat pewarna alami memiliki keunikan tersendiri, bila dibanding dengan warna dari zat pewarna sintetis karena faktor alam (unsur hara, jenis tanah, masa panen, dan sebagainya) sangat berpengaruh, sehingga sering kali menjadi kendala dalam industri batik warna alam karena belum adanya standar acuan berkaitan dengan warna-warna alami pada batik. Pada kain batik dengan pewarna alami, spektrum warna yang dihasilkan juga jauh lebih terbatas dibandingkan dengan penggunaan pewarna sintetis.

Diperlukan suatu teknik color matching yang tepat untuk memperoleh arah warna alam yang diinginkan untuk diaplikasikan pada kain batik. Sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan tersebut maka Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) melakukan penelitian “Color Matching Pewarna Alami pada Produk Kain Batik dan Non-Batik.” Menghasilkan suatu bentuk aplikasi berbasis web, color matching pewarna alami--Natural Dyes Forecast Matching, yaitu suatu digitalisasi katalog hasil pewarnaan alami pada kain batik dan non-batik, dilengkapi dengan informasi grafis warna serta formula untuk memperoleh warna yang diharapkan.  Aplikasi color matching warna alam-NaDIn: Natural Dyes Indexation (Katalog Digital Warna Alam) dapat dibuka melalui tautan :

https://nadin.batik.go.id/

Bagikan di Media Sosial Anda